Praditya Firmansyah Blogs

Indonesian Sugar Research Institute

  • HALAMAN UTAMA

  • Kalender

    October 2008
    M T W T F S S
        Nov »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Kalender Hijriyah

  • Stop Bugil
  • situs bersih

  • Posisi Pengunjung

  • Your Ip

    IP
  • komentar

Kehilangan Gula di Stasiun Gilingan

Posted by pdfazka on October 15, 2008

Rendemen yang selalu menjadi masalah dan perdebatan antara para petani tebu dengan pihak pabrik sampai sekarang masih belum ada solusi yang memuaskan bagi kedua belah pihak. Banyaknya tebu yang dibawa ke bawa ke pabrik untuk digiling tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Ada berbagai macam penyebab terjadinya kehilangan gula mulai dari luar pabrik sampai di dalam pabrik sendiri. Dari berbagai peyebab terjadinya kehilangan gula di berbagai tempat salah satunya adalah kehilangan di stasiun gilingan. Tanpa disadari ketika proses giling tebu dilakukan resiko kehilangan gula di stasiun gilingan yang terbawa ampas juga menjadi salah satu penyebab berkurangnya kuantitas gula yang dihasilkan. Besarnya kehilangan ini pada umumnya diukur dengan besaran: ekstraksi (HPB., HPG.) dan kadar pol ampas. Penyebab besarnya kehilangan gula di ampas sangat dipengaruhi oleh: intensitas pencacahan tebu, intensitas imbibisi dan intensitas pemerahan dari tandem gilingan. Semakin intensif pencacahan, imbibisi dan pemerahan, dilakukan, semakin tinggi pula ekstraksi yang dicapai dan semakin rendah kadar pol ampasnya (kehilangan gulanya).

Kinerja stasiun gilingan masih cenderung konstan. Hal ini terjadi karena, dalam kurun waktu yang sama telah terjadi peningkatan teknologi peralatan yang lebih efisien di stasiun gilingan. Alat Pencacah Tebu (APT) jenis crusher telah hampir punah ditinggalkan. Sebagai gantinya mulai digunakan: pisau tebu, unigrator, shredder, atau kombinasi dari ketiganya. Dengan demikian, memungkinkan dilakukannya pencacahan tebu lebih intensif. Tandem gilingan juga telah mengaplikasi teknologi peralatan yang lebih efisien, diantaranya: Donnelly chute, self setting mill, pressure feeder, atau kombinasinya. Sehingga memungkinkan dilakukannya pemerahan mekanis yang lebih intensif. Disamping itu sejalan dengan tuntutan efisiensi, PG mulai melengkapi dirinya dengan unit evaporator yang tangguh. Sehingga memungkinkan dilaksanakannya imbibisi yang lebih intensif. Hasil Pemerahan Brix (HPB) yang dicapai relatif konstan, akan tetapi kadar pol ampasnya (kehilangan gulanya) justru lebih rendah. Walaupun secara rerata, kinerja stasiun gilingan relatif konstan dari waktu ke waktu, tetapi PG-PG yang kinerjanya di bawah rata-rata, kondisinya cukup memprihatinkan. Banyak kendala, baik di sektor peralatannya maupun di sector operasionalnya. Keterbatasan dalam pemeliharaan peralatan akan menyebabkan: giling tidak lancar dan peralatan tidak dapat bekerja optimum. Dampaknya target kapasitas giling tidak tercapai dan terjadi inefisiensi. Dibeberapa PG peralatan stasiun gilingannya tidak dalam kesetimbangan spesifikasi teknik yang harmonis. Ketidak setimbangan ini akan berdampak pada tidak optimumnya kinerja stasiun gilingan yang bersangkutan. Misalnya pencacahan tebu sudah intensif, pemerahan mekanis juga sudah intensif, tetapi apabila imbibisinya tidak optimum, maka kinerja yang dicapai pastilah tidak optimum. Usia peralatan yang sudah tua juga berkontribusi terhadap terjadinya inefisiensi. Hasil uji kinerja yang dilakukan menunjukkan bahwa, PG-PG ini ekstraksi gilingannya (HPB) rendah dan kadar pol ampasnya (kehilangan gulanya) tinggi, dibanding rata-rata Indonesia.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.